“Tak Kenal Maka Tak Sayang” begitu kata peribahasa yang
popular itu. Dengan mengenal mengenai suatu hal, maka wawasan pun akan
bertambah dan bisa lebih memahami
sekitar. Nah, kali ini saya ingin sedikit berbagi kepada teman-teman pembaca
sekalian, tentang : Apa sih Sosiologi
itu sebenarnya ? Apa saja yang dikaji dalam Sosiologi? Dan manfaat apa yang diperoleh dari
mempelajari Sosiologi? Tentunya penasaraan bukan? Untuk mengetahui lebih
lanjut, yuk teman-teman simak ulasan berikut ini.
Pernahkah Anda
berada ditempat keramaian ? Sadarkah Anda keramaian yang ada di sekeliling Anda
adalah bagian dari masyarakat? Lalu, apa yang dinamakan masyarakat itu sendiri?
Sosiologi adalah kajian ilmiah tentang kehidupan social manusia. Sosiolog
berusaha mencari tahu tentang hakikat dan sebab-sebab dari berbagai pola
pikiran dan tindakan manusia yang teratur dan dapat berulang.
Sebagai
gambarannya, Ibu Ani mempunyai lima anak yang masih kecil-kecil dua diantaranya
adalah balita. Beliau berkeinginan menjaga dan merawat anaknya sendiri tanpa
bantuan pembantu atau pengasuh bayi. Untuk itu dia membuat beragam makanan
kecil, seperti kue donat, gorengan, yang akan dititipkan di warung-warung
sekitar tempat tinggalnya. Sekitar pukul 04.00 beliau sudah bangun untuk memulai mengolah adonan kue,
setelah semalam ia telah mempersiapkan bahan-bahan yang diperlukan. Oleh karena
itu, sekitar pukul 06.00 ia sudah mengirimkannya ke warung-warung.
Penghasilannya memang tidak seberapa, namun Ibu Ani merasa senang dengan
pekerjaannya ini yang tidak bergantung pada penghasilan suaminya saja, meski
penghasilan suaminya setiap bulan cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Lain hal
dengan Ibu Rita, beliau bekerja di sebuah perusahaan swasta. Ia sudah menjadi
Manajer di perusahaan tersebut. Dengan tanggung jawab untuk memimpin perusahaan
membuatnya harus sampai di kantor sekitar pukul 07.00 dan pulang paling cepat
pukul 18.00. Hari Minggu pun, ia terkadang masuk kantor karena banyaknya pekerjaan
yang harus diselesaikan. Aktivitas Buk Rita cukup padat sehingga beliau
menerima penghasilan sebagai kompensasi dari segala usahanya. Dengan demikian,
ia dapat menggaji pembantu untuk mengurus anak-anak dan rumah. Ia selalu berusaha
untuk tetap menjaga hubungan dengan anak-anak dan suami karena menurutnya yang terpenting kualitas
pertemuan bukan kuantitasnya.
Dari cerita
kedua ibu tersebut, dapat dilihat bagaimana keduanya menjalani peran
gender dalam sepenggal kehidupannya. Hal ini baru satu contoh tentang kehidupan
para ibu sebagai kaum wanita dengan pekerjaannya . bagaimana bila dibandingkan
dengan kaum pria dengan pekerjaannya? Anda akan bisa membandingkan kehidupan
pria dan wanita dengan cara memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai suatu fakta social
yang dibahas dalam Sosiologi. Hal tersebut mungkin sebagian orang dianggap
sebagai suatu keniscayaan. Akibatnya, mereka tidak mau berfikir lebih lanjut untuk merenungkan bahwa hal
tersebut merupakan hal yang menarik untuk diperhatikan dan dijadikan bahan ulasan.
Satu dari
sekian banyak tujuan mempelajari Sosiologi, yaitu membantu Anda dalam mengembangkan kemampuan
tersebut. Mau tak mau Anda terlibat langsung dalam kehidupan social, melakukan
kilas balik, serta menganalisis hal-hal yang sedang terjadi. Sosiologi dapat
digunakan bagi Anda yang mampu melihat
berbagai kisah kehidupan dalam masyarakat, atau sering disebut dengan sociological imagination (imajinasi
sosiologi).
Istilah sociological imagination (imajinasi
sosilogi) pertama kali dipopulerkan oleh C.Wright
Mills yang dimaksud untuk membantu agar manusia tidak menyalahkan diri
sendiri atas segala masalah yang dihadapi dan lebih memahami keadaan. Misalnya,
mengapa ada banyak orang miskin dan sedikit orang yang kaya, mengapa ada yang
bisa memperoleh pendidikan dan ada yang tidak. Disinilah peran imajinasi sosiologi, karena dengan mempelajari
Sosiologi akan dapat memilah antara fakta social tentang dirinya yang berkaitan
dengan posisinya di masyrakat dan mana fakta social yang merupakan hasil dari usahanya
sendiri.
Setelah
mendapatkan penjelasan gambaran singkat mengenai Sosiologi, berikut akan
diuraikan tentang Sosiologi sebagai ilmu dan metode.
A. SIFAT
- SIFAT ILMU SOSIOLOGI
Sosiologi adalah studi ilmiah
atau bisa disebut juga sebagai ilmu (science). Oleh karena itu, sebagai ilmu
pengetahuan, Sosiologi harus memenuhi criteria sebagai berikut:
1. Sosiologi
bersifat empiris,
berarti bahwa Sosiologi didasarkan pada pengalaman-pengalaman dari hasil
observasi (pengamatan) terhadap kenyataan dan akal sehat sehingga hasilnya
tidak bersifat spekulatif.
2. Sosiologi
bersifat teoritis,
berarti bahwa ilmu pengetahuan tersebut selalu berusaha menyusun abstraksi dari
hasil-hasil observasi yang merupakan kerangka dari unsure-unsur yang bertujuan
menjelaskan hubungan sebab akibat sehingga menjadi sebuah teori.
3. Sosiologi
bersifat kumulatif.
Kumulatif berasal dari kata Latin cumulare
yang berate menimbun, menumpuk, makin lama makin besar. Artinya, teori-teori
Sosiologi dibentuk atas dasar
teori-teori yang sudah ada dalam arti memperbaiki memperluas, serta
memperhalus teori-teori yang lama.
Misalnya Sosiologi pendidikan yakni teori Sosiologi dipadukan dengan teori
keluarga, karena dalam keluarga terdapat unsur pendidikan.
4. Sosiologi
bersifat non etik,
berate dalam melihat sesuatu fakata sosiologi tidak menilai sesuatu dari
keeburukan atau kebaikannya , namun secara objektif. Karena Sosiologi melihat
suatu fakta melalui analisis tentang sebab yang mendasari fakta tersebut maupun
tujuan dilakukannya analisis.
B. SOSIOLOGI
SEBAGAI METODE
Sosiologi sebagai metode
berarti cara berfikir untuk mengungkapkan realitas social dan budaya yang ada
dalam masyarakat dengan prosedur dan teori yang dapat dipertanggungjawabkan
secara ilmiah. Ada perbedaan yang
mendasar antara metode dengan metodologi. Metode merupakan cara-cara kerja yang
dipergunakan dlam Sosiologi untuk mempelajari objeknya, sedangkan metodologi
merupakan pembahasan konsep berbagai metode, kelebihan, dan kelemahannya.
Sebagai suatu ilmu pengetahuan
diantara ilmu-ilmu lain Sosiologi juga
harus memenuhi syarat ilmiah. Sosiologi
meneliti kehidupan manusia sebagai suatu kenyataan (das sein), bukan meneliti suatu kebenaran atau keharusan (das sollen). Untuk itu, metode penelitiannya pun harus bersifat
empiris, yang berarti dari beberapa kejadian nyata, Sosiologi mengambil
kesimpulan dan menyusunnya secara logis dan sistematis, dalam mengkaji objeknya
Sosiologi juga seringkali mengadaptasi
metode-metode dari ilmu social
lain, seperti psikologi, antropologi, dan ekonomi.
Selain itu, Sosiologi
melakukan kajian terhadap usaha-usaha individu untuk menyesuaikan diri atau
melawan usaha penyeragaman yang dilakukan oleh masyarakat secara umum. Karena
itu penelitian Sosiologi dan ilmu
kemasyarakatan lainnya haruslah bersifat empiris, yakni memperhatikan kenyataan
yang dialami oleh masyarakat, jika perlu dengan merasakan pengalaman yang sama
dengan masyarakat yang mengalami dinamika tersebut (participatory research).
Ada beberapa hal yang
membedakan Sosiologi dengan ilmu social lainnya. Pertama, Sosiologi memandang interaksi-interaksi dalam kelompok
sebagai ‘benda’ yang mempunyai ciri-ciri tertentu sebagai sebuah kekhasan dalam
studinya. Kedua, Sosiologi meminta
kemampuan para ahlinya untuk dapat mengabtraksikan gejala-gejala social yang
terjadi. Sehubungan dengan kebutuhan
bahkan tuntutan dari pendekatan ini, maka Sosiologi harus dapat menarik
kesimpulan atas keteraturan atau keterulangan
gejala-gejala social yang terjadi, bukan melihat gejala sebagai
kejadian yang berlangsung hanya pada
satu masa. Ketiga, berbeda dengan
ilmu-ilmu social lainnya yang kebanyakan
bersifat normative, Sosiologi sebaliknya menuntut sikap objektif dari
penelitiannya dengan membuang dan menjauhkan sebanyak mungkin nilai-nilai
pribadinya saat mengadakan penelitian (grounded
theory).
Dapat disimpulkan dari
penjelasan diatas, bahwa hal-hal berikut ini dianggap sebagai gejala
keteraturan dan menjadi objek studi bagi Sosiologi:
3. Lembaga-lembaga dan
kelengkapannya,
6. Pangawasan dan pengendalian
social (social control),
7. Perubahan massyarakat (social change).
Pada dasarnya, terdapat dua
metode yang biasa digunakan dalam Sosiologi, yaitu metode kualitatif dan metode
kuantitatif. Metode kualitatif merupakan metode yang menggunakan unsur-unsur
studi diluar hitungan satuan ukuran angka-angka sehingga hanya dapat dikaji
melalui proses abstraksi, studi literature, ataupun melalui studi yang bersifat
partisipatif untuk mendapatkan pengalaman-pengalaman tentang hal yang diteliti.
Metode ini menurut Weber merupakan metode yang berdasarkan verstehen (pengertian atau pemahaman). Yang termasuk kedalam metode
kualitatif antara lain metode historis, metode komperatif, metode studi
kasus (case study). Metode kuantitatif merupakan metode yang mengutamakan
bahan-bahan keterangan dengan angka-angka sehingga fakta social yang diteliti,
diukur dengan skala, indeks, table, dan
formula statistic yang sedikit banyaknya menggunakan matematika. Metode yang
termasuk dalam metode ini yaitu, metode statistic dan sosiometri.
Metode Sosiologi lainnya yang
didasarkan pada penjenisan yaitu metode deduktif (suatu proses berfikir yang
bermula dari pernyataan umum /premis
mayor ke penyertaan yang khusus / premis
minor) dan metode induktif ( suatu proses berfikir yang bermula dari
pengamatan terhadap kejadian khusus yang kemudian di tarik kesimpulan secara
umum).
Penggolongan metode
Sosiologi lainnya adalah penggolongan
beradasarkan jenis metode empiris dan metode rasionalistis.
1. Metode empiris menyandarkan
diri pada keadaan-keadaan yang sedang nyata didapat dalam masyarakat. Yang
diwujudkan dalam research atau penelitian yaitu cara memelajari suatu masalah secara
sistematis dan intensif untuk mendapakan pengetahuan yang lebih banyak mengenai
masalah tersebut.
2. Metode rasionaloistis
mengutamakan pemikiran denhgan logika dan pikiran sehat untuk mencapai
pengertian tentang masalah-masalah kemasyarakatan. Metode ini dahulu sampai sekarang masih juga
banyak digunakan oleh para sarjana
Sosiologi di Eropa.
Metode – metode Sosiologi yang
telah disebutkan bersifat saling melengkapi dan para ahli Sosiologi menggunakan
lebih dari satu metode dalam meneliti dan menyelidiki objek kajiannya. Selain
metode, setiap ilmu pengetahuan memiliki perlengkapan atau alat- alatnya
sendiri, yaitu konsep untuk menganalisis masalah yang terdapat dalam
lapangannya, khususnya untuk Sosiologi, yaitu masyarakat.
Ada alsan mengapa penggunaan
metode untuk mendapatkan ilmu pengetahuan harus sistematis. Empat hal yang
menyebabkan pemikiran keilmuan harus sistematis, antara lain:
1. Masyarakat adalah kumpulan
manusia yang menarik sekaligusunik karena kejaddian-kejadian yang terjadi
didalammnya. Oleh karenanya, para peneliti cenderung terhanyut dalam
cerita-cerita pribadi yang penuh pertimbangan pribadi pula.
2. Para peneliti memikul beban
berat yang rumit, karena mempunyai tanggung jawab moral untuk mempersatukan
perbedaan dari keterbatasan pengetahuan manusia sehingga memerlukan suatu
pendekatan atau cara-cara yang teratur (disiplin).
3. Supaya dapat disampaikan dan
disebarluaskan (dikomunikasikan), pengetahuan harus mempunyai bentuk yang jelas
dan berdasarkan bukti-bukti yang sesuai atau benar (valid) serta meyakinkan sesuai
dengan pernyataan yang timbul.
4. Untuk mengumpulkan pengetahuan
sehingga kesalahan-kesalahan masa lalu dapat dihindari dan menyusun pernyataan
yang selanjutnya dibuktikan dalam cara yang dapat dilakukan ulang oleh orang
lain.
Dalam penerapan metode Sosiologi
terdapat beberapa keterbatasan yaitu:
1. Permasalahan yang terjaadi
dalam masyarakat sangat rumit.
2. Kesukaran dalam pengamatan
karena objek kajiannya bersifat subjektif,
3. Kesukaran dalam replikasi,
maksudnya karena setiap gejala social yang terjadi belum tentu terulang dalam
bentuk yang sama persis sehingga peneliti harus benar-benar teliti,
4. Hubungan timbal balik antara
pengamat dan objek kajian karena sang objek dapat terpengaruh subjektifitas si
pengamat,
5. Kesukaran dalam pengendalian
objek pengamatan karenamanusia pada dasarnya adalah makhluk yang unik,
6. Kesukaran dalam masalah
pengukuran karena ilmu social tidak sama dengan ilmu alam yang serba pasti.