Oleh : Heqal Mardiyah
1. Perkembangan Sosiologi Era
Ibnu Khaldun
Apabila disandingkan dengan ilmu-ilmu social lainnya, sosiologi
termasuk yang paling muda usianya. Walaupun begitu, cikal bakal ilmu mengenai
masyarakat telah diperkenalkan oleh Ibnu Khaldun (1333-1406)sejak abad ke-14 di
dunia Arab, beliau dikenal sebagai ilmuwan timur tengah . Tetapi saat itu belum
suatu nama disiplin ilmu secara definitif. Ibnu Khaldun (dalam Basrowi, 2005:
2) memperkenalkan sejumlah prinsip dalam
mempelajari masyarakat, yakni:
a. Fenomena social mengikutti pola-pola yang sah menurut hokum, walu
teratur, tetapi sifatnya tidak kaku, dapat dikenali, dan dilukiskan.
b. Hukum-hukum perubahan berlaku pada tingkat kehidupan masyarakat,
bukan tingkat individual .
c. Hukum-hukum proses social harus ditemukan melalui pengumpulan data
dan dengan mengamati hubungn antar berbagai variable.
d. Hukum-hukum social yang serupa berlaku untuk suatu masyarakat, tetapi
unutk yang lain akan sangat berbeda.
e. Masyarakat ditandai oleh perubahan. Tingkat perunbahan antara
masyarakat yang satu dengan yang lainnya
berbeda.
f. Hukum-hukum yang berlakuterhadap perubahan itu bersifat social, bukan
biologis atau alamiah. Daya dorong perubahan social, berupa solidaritas,
kepemimpinan, mata pencaharian, dan tingkat
kemakmuran.
Dalam buku Muqaddimah ia
menyumbangkan pikiran sosiologis yang lebih terperinci dan sangat maju,
sehingga ia sering juga disebut sebagai peletak batu pertama dari sosiolgi
sebagai ilmu. Ibnu Khaldun merumuskan satu model tentang suku nomaden yang
keras dan masyarakat-masyarakat yang halus dalam suatu hubungan yang kontras.
2. Perkebangan Sosiologi di
Eropa Barat
Istilah sosiologi pertama kali diperkenalkan pada 1839 oleh Aguste
Comte (di dalam bukunya Course de
Philosophi Positive, jilid 4) unutk merujuk pada ilmu yang dikembangkannya
tentang masyarakat. Kontribusi Comte yang paling bermakna bagi perkembangan
sosiologi ialah filsfat positivisme yang menyatakan bahwa :
a. Objek yang di kaji sosiologi harus fakta
b. Kajian harus bermanfaat serta mengarah pada kepastian dan kecermatan
Oleh karena itu beliau kemudian diakui secara umum sebagai Bapak
Sosiologi. Walaupun begitu terdapat pula sebagian ahli yang tidak sependapat.
Reiss, Jr (1968) berpendapat bahwa Emile Durkheim lebih layak menjadi Bapak
Sosiologi karena keberhasilannya melembagakan sosiologi menjadi sebuah disiplin
ilmu.
Menurut Berger dan Kellner (1981) pemikiran sosiologi berkembang saat
masyarakat menghadapi ancaman terhadap hal yang selama ini dianggap sebagai
sesuatu yang memang sudah seharusnya demikian, benar, nyata, menghadapi apa
yang disebut treaths to tha taken for
granted world,
Dalam bukunya yang berjudul Orde,
Varendering,Ongelijkbeid: Een Inleiding in de Geschiedenis van de Sociologie
(1983), L. Laeyendecker mengaitkan kelahiran sosiologi dengan sejumlah proses
perubahan jangka panjang dan revolusi yang melanda Eropa Barat pada abad
pertengahan, antara lain:
a. Perubahan dibidang ekonomi;
b. Perubahan dibidang social dan politik;
c. Pergeseran peran gereja Khatolik dan digulirkannya reformasi oleh
Martin Luther;
d. Meningkatnya individualistisme yang ditandai oleh meningkatnya usaha
untuk meraih prestasi individual dan pengakun dari masyarakat atas karya-karya
pribadi;
e. Lahirnya Ilmu pengetahuan modern;
f. Tumbuhnya kepercayaan pada diri sendiri sebagai akibat dari berbagai
perubahan dan perkembangan yang telah terjadi;
g. Revolusi industry yang bermula di Inggris;
h. Revolusi Prancis (1792).
3. Perkembangan Sosiologi di
Indonesia
Setelah bermula di Eropa Barat, sosiologi kemudian semakin tersebar
luas keseluruh bagian belahan dunia sebagai ilmu pengetahuan yang dipelajari
oleh jutaan orang di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Sebelum Perang Dunia II
Sekolah Tinggi Hukum (Rechts Hogeschool) Jakarta telah memberikan mata kuliah
sosiologi walaupun hanya sebatas pelengkap
bagi kajian ilmu hukum.
Namun sayang, pada 1934/1935, kuliah sosiologi pada Sekolah Tinggi
tersebut di tiadakan, karena muncul anggapan bahwa pengetahuan tentang bentuk
dan susunan masyarakat beserta proses-proses yang terjadi didalamnya tidak
diperlukan untuk mengkaji hukum.
Tidak terlalu lama setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, seorang
sarjana Indonesia yaitu, Soenario Kolopaking untuk pertama kalinya memberikan mata
kuliah sosiologi (1948) pada Akademi
Ilmu Politik di Yogyakarta (Universitas Gadjah Mada yang sekarang ini dikenal
umum).
Namun sosiologi baru mulai dikembangkan pada tahun 1950-an.
Pengembangan ini dilakukan oleh beberapa orang pemikir muda Indonesia yang
mendalami sosiologi, mereka baru kembali dari studinya di Amerika Serikat,
Belanda, dan Inggris. Sebagian diantara mereka lantas mempublikasikan sejumlah
karya bercorak sosiologi, misalnya: Mr. Djody Gondokusumo (Sosiologi Indonesia), Hassan Shadily (Sosiologi untuk Masyarakat Indonesia), Mayor Polak (Sosiologi, Suatu Pengantar Ringkas), dan
Selo Soemardjan (Social Changes in
Jogjakarta dan Setangkai Bunga Sosiologi). Melalui karya-karya dan jasa
mereka, sosiologi pada akhirnya semakin
dikaenal di Indonesia. Karena ketekunan dan komitmennya dalam mengembangkan
sosiologi menjadikan Selo Soemardjan kerap dijuluki Bapak Sosiologi Indonesia.
Sekarang Sosiologi sendiri telah di pelajari hamper semua perguruan
tinggi di Indonesia, baik dalam bentuk pengantar sosiologi atau sosiologi
khusus yang menjadi mata kuliah wajib berbagai jurusan, maupun secara mendalam
pada jurusan atau program studi yang dinaungi oleh Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik. Sebut saja, di Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada,
Universitas Sumatera Utara, Universitas Andalas dan lainnya.
Casino - DrmCD
BalasHapusWelcome 양주 출장안마 to Casino 안성 출장마사지 - 김해 출장마사지 DrmCD 춘천 출장마사지 and explore the incredible world of the best slot machines in Las Vegas! Our games range from blackjack to roulette and even Rating: 동해 출장샵 4.2 · 2 reviews